Ada beberapa cerita di hidup gw yang mirip dengan cerita di buku ini, kecuali nasib gw yang jauh lebih bagus dikit: gw hidup di tahun yang sama sekali ga bisa dibandingin dengan cerita yang mbak MR punya saat itu, gw idup berkecukupan, gw masih bisa leha-leha dan makan enak dalam sehari walau terbatas juga. Gw setidaknya tergerak untuk jadi lebih baik dari mbak MR karena gw punya backing duit--oke tapi ga banyak--dan segera meluluskan diri dan meraih impian.
Persoalannya adalah...
Gw hidup di negara yang berbeda dengan negara dimana mbak MR menghabiskan seluruh perjuangan hidupnya saat itu. Di Indonesia tidak ada namanya kerja part-time, boro-boro masih banyak pengangguran so ekonomi keluarga gw cuma bersumber dari penghasilan satu orang alias bapak gw dan belum lagi desakan dari saudara kandungnya (yang beberapa itu agak kurang masuk akal).
Mbak MR punya ayah dan ibu yang amat romantis, sayang anaknya dan pengertian. Bukan untuk membandingkan kondisi keluarga, tapi pada kenyataannya hal tersebutlah yang memecut keberanian mbak MR untuk selalu berkorban bagi keluarganya. Sementara gw? Ga ah, gw cukup menikmati uang hasil jerih payah sebaik-baiknya dan memenej agar duit bokap ga 'nganggur'. Belum lagi bokap gw yang sama sekali ga mengenal dan memiliki kata romantis di hidupnya. What to expect? Too much unbelievable flaws from him. We just know we live from his money thus we have to obey him. That's all.
Selain itu mbak MR diberi berkah oleh Tuhan seorang lelaki dari surga yang menjadi pasangan hidupnya sekarang, yang saling kenal dan paham kondisi masing-masing dan berkomitmen untuk bersama mengejar mimpi. Gw? Boroooooo, keluar rumah aja jarang, sahabat aja gw ga punya. Ngenes kan?
Ketiga, gw punya fisik yang terbatas. Gw sering sakit, ga bisa dibuat kerja keras.. sekali memforsir tubuh gw bisa demam 7 hari. Serius, dan paham 'mind power' ga bisa diaplikasikan saat kondisi sedang drop. Memangnya ada kalo udah kena demam kita akan mikir 'aku ga sakit!' 'aku ga sakit!' dan mendadak sembuh? No way. Teteup aja lo demam. Makanya gw ga pernah memforsir diri sendiri karena gw tahu tubuh memiliki batas sesuai dengan anatomi yang dimiliki sejak dari kecil dan gw ga bisa melampaui batas itu untuk mencari kerjaan yang lebih oke dan prospek ketimbang jualan baju dkk.
Keempat, gw masih merasa kerja kantoran adalah jalan aman untuk mendapatkan gaji tetap. At least, kudu pinter ngatur waktu: sembari kerja sembari dagang. Yah mungkin karena visi gw adalah memakmurkan diri sendiri, bukan orangtua dan gw ga punya kewajiban yang harus diselesaikan (dalam kasus di buku mbak MR adalah utang beasiswa).
Well, bukan berarti gw apatis ya. Gw salut dengan perjuangan mbak MR sampe bisa menikmati segalanya dan berguna bagi orang lain sampai saat ini, dan itu berkah dari Allah untuknya. Mungkin dia orang terpilih. Tapi bukan berarti gw harus berhenti dan pasrah.
Karena buku itu gw sekarang lebih terpacu untuk cepat menyelesaikan kuliah, gw jadi nginget-nginget jaman semester 4 gw dengan hebatnya dapat menyelesaikan desain satu majalah dari konten, layout hingga nyetaknya dalam waktu sebulan karena gw menyukai proses pembuatannya dan gw sukaaaaa banget dengan topik yang gw ambil untuk pembuatan majalah. Itulah ketika saat kita bekerja kita mencintai pekerjaan itu. Gw mau mengaplikasikannya lagi pada tugas akhir gw, kudunya gw cinta beribadah jadi gw kudu bisa nyelesaiin aplikasi ini dengan target akhir Januari kelar. Gw kudu bisa! Ga pake pending lagi! Walo tetep gw kudu bayar buat tambahan semester :P
Dan impian gw adalah memiliki tambahan uang saku, bukan buat mengembalikan modal kuliah tapi untuk kesenangan gw sendiri. Jarang sekali ortu gw memberi duit tambahan untuk belanja. Semua murni dari tabungan uang saku dan gw takjub aja karena buktinya gw punya beberapa setel pakain hasil nyicil dari kartu kredit, hwakakaka :))
Untuk membalas kebaikan orangtua? Cuma satu aja sih kuncinya: rajin bersihin rumah dan nurut kata bokap. Yang pada kenyataannya lebih susah ketimbang ngumpulin duit. Serius. Terkadang apa yang mereka minta tidak sesuai dengan kata hati dan terkadang tidak tepat timingnya, yang akhirnya membuat apa yang mereka minta tidak terkabul dan menjadikan gw (dan kakak gw) menjadi anak yang keliatannya ga pernah nurut orangtua. Yah begitulah.
Jadi intinya ada beberapa hal yang ga bisa dipaksakan, batasan yang membuat orang tidak bisa secepat itu meraih impiannya. Ada kalanya motivasi-motivasi yang mereka berikan tidak bisa diaplikasikan pada semua orang, ada beberapa yang gagal bukan karena mereka tidak memiliki ambisi tapi karena terdesak oleh keadaan.
Tapi terimakasih kepada mereka motivator-motivator yang telah hidup dan berbagi cerita, karena setidaknya mereka telah menghidupkan api semangat walaupun kibaran api itu besarnya bervariasi.
Terimakasih karena pada akhirnya gw akan mengingat metode yang mereka sebut dalam buku. Satu hal yang harus dihilangkan dari gw: jangan mudah putus asa!
Yeah.
Subscribe

0 comments:
Post a Comment